Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir dalam balutan jas tutu hitam khas Bugis dengan aksen emas, lengkap dengan peci serasi. Di sampingnya, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i tampil gagah dengan beskap putih dan blangkon batik cokelat, busana adat Jawa. Kebersamaan keduanya mencerminkan keberagaman budaya yang menyatu dalam panggung kebangsaan.
Lapangan Monumen Nasional menjadi titik utama perayaan. Suasana kian semarak ketika Presiden RI Prabowo Subianto hadir membuka langsung karnaval. Tepuk tangan membahana, seolah memberi tanda dimulainya malam penuh warna dan kebanggaan.
Truk Hias: Kapal Persatuan
Di antara rangkaian atraksi, salah satu yang paling menyita perhatian adalah truk hias gagasan Kementerian Agama, BPKH, BPJPH, dan BP Haji. Truk ini bukan sekadar kendaraan hias, melainkan simbol persatuan dengan tema “Kerukunan Umat Beragama: Pilar Kokoh untuk Indonesia Emas 2045.”
Truk tersebut digambarkan bak kapal persatuan yang mengarungi samudra kebhinnekaan. Dari atas truk, Menag, Wamenag, Sekjen Kemenag, Kepala BPKH, perwakilan BPJPH, dan jajaran pimpinan BP Haji melambaikan tangan, menyapa hangat masyarakat yang memenuhi sisi jalan. Lambaian itu dibalas antusias: sorakan, senyum lebar, hingga deretan kamera ponsel yang merekam momen bersejarah.
Yang membuat truk ini istimewa adalah kehadiran simbol-simbol keagamaan: kubah masjid, salib, menara gereja, klenteng, stupa, hingga pura. Semua berdiri berdampingan dalam balutan warna emas yang melambangkan kejayaan dan harmoni. Lebih dari ornamen, simbol-simbol ini adalah pesan kuat tentang cinta kasih, kebijaksanaan, dan persaudaraan yang dijaga bersama.
Tak hanya itu, truk juga menampilkan karakter Wakakibo Kids, karya kreatif siswa SMK Raden Umar Said Kudus. Sosok ceria penuh energi ini menjadi simbol generasi muda Indonesia: sederhana, gotong royong, pantang menyerah, dan menjunjung persaudaraan. Kehadirannya membawa nuansa segar sekaligus menegaskan bahwa semangat kerukunan bisa diwariskan lewat kreativitas anak bangsa.
Truk kerukunan ini mendapat kehormatan melaju pertama, membuka rangkaian panjang parade malam itu. Seiring lajunya, semangat kebangsaan terus bergema di sepanjang jalan ibu kota. Setelahnya, kendaraan hias dari berbagai kementerian dan lembaga turut menyusul, masing-masing menghadirkan keunikan yang menambah warna kemerdekaan ke-80 Indonesia.
Malam Jakarta bukan sekadar pesta. Ia menjadi kisah tentang persatuan, tentang Indonesia yang majemuk namun tetap satu, dan tentang harapan menuju Indonesia Emas 2045.