Rangkaian kegiatan dimulai dengan Training of Trainers (ToT) bagi tenaga pendidik, Sahabat Dengar, dan Sahabat Tuli. Pelatihan ini berfokus pada pengenalan huruf Hijaiyah serta metode membaca Al-Qur’an yang ramah bagi sahabat tuli. Narasumber sekaligus Juru Bahasa Isyarat (JBI), Ida Zulfiah, turut mendampingi peserta dan berbagi kisah inspiratif dalam podcast bersama Prof. Mufliha Wijayati mengenai upayanya memperjuangkan akses Al-Qur’an bagi penyandang tuli.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Terpumpun bersama komunitas disabilitas dengan berbagai kebutuhan khusus, yang kemudian ditutup dengan podcast bersama Ketua Komnas Perempuan sekaligus Ketua DMI, Maria Ulfah Anshor. Kehadiran tokoh DMI Jakarta, Iklilah Muzayyanah DF dan Ida Rosyidah, sejak awal hingga akhir acara turut memperkuat pelaksanaan program inklusif ini.
Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa adalah adanya kolaborasi lintas lembaga. Selain DMI, kegiatan ini melibatkan Payungi, Aliansi PTRG, Kementerian Agama Kota Metro, BAZNAS Kota Metro, Dinas Sosial, dan Dinas PPPA-KB. Peran penting juga dimainkan oleh dosen UIN Jurai Siwo Lampung: Prof. Mufliha Wijayati, Elfa Murdiana, Siti Zulaikha, dan Dharma Setiawan. Mereka bertindak sebagai mediator sekaligus penggerak yang menjembatani komunikasi antara lembaga, komunitas, dan masyarakat.
Dalam puncak acara podcast bersama Maria Ulfah Anshor yang dipandu Elfa Murdiana, ia menegaskan bahwa mewujudkan masjid sebagai ruang inklusif merupakan amanah bersama.
“Menjadikan masjid sebagai ruang inklusif adalah tugas kita bersama. Karena itu, kita harus bergerak bersama, membuka ruang yang setara, dan memastikan bahwa setiap jamaah baik laki-laki, perempuan, maupun sahabat disabilitas dapat hadir dengan martabat yang sama di rumah Allah,” ujar Elfa.
Sementara itu, Maria Ulfah Anshor dalam refleksinya menyampaikan bahwa momentum 80 tahun kemerdekaan menjadi saat yang tepat untuk bercermin sejauh mana hak-hak warga negara telah diwujudkan. Menurutnya, kemerdekaan sejati adalah hadirnya keadilan, kesetaraan, serta penghormatan terhadap martabat setiap warga, termasuk kelompok perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
Ia menegaskan, perjuangan kemerdekaan hari ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, melainkan melawan diskriminasi dan segala bentuk hambatan yang menghalangi warga negara hidup bermartabat.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dikenang, melainkan terus diperjuangkan melalui upaya menghadirkan ruang-ruang inklusif, adil, dan ramah bagi semua. Masjid sebagai pusat peradaban umat diharapkan dapat menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan yang setara, di mana setiap jamaah dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah di hadapan Allah maupun sesama manusia.